Showing posts with label humor. Show all posts
Showing posts with label humor. Show all posts

22 September 2008

Tidak Ada Tambal Ban di Jalan ke Tanah Abang

Salah satu akses menuju komplek Candi Bumi Ayu adalah melalui jalan yang mengikuti aliran sungai lematang, tepatnya di wilayah lematang ilir. Kalau dari jembatan yang menyeberang sungai lematang di Teluk Lubuk, tinggal mengikuti jalan menuju ke hilir maka Komplek Candi tersebut dapat ditemukan diperbatasan kecamatan Rambang Dangku dan Kecamatan Tanah Abang(Tenabang).


Walaupun jalan Teluk Lubuk menuju Tanah Abang tersebut baru saja diperbaiki dan diperlebar, jangan harap akan menemukan ban bekas yang bertuliskan “Tambal Ban” yang digantung di sepanjang jalan seperti yang biasa ditemukan di jalur Pantura atau di jalur lainnya di pulau jawa.

Lalu apa yang harus dilakukan seandainya dalam perjalanan disana pecah ban atau sekedar tambah angin. caranya gampang, tinggal cari bangunan yang dilengkapi dengan kompresor angin, jejeran ban bekas dan biasanya ada spanduk merek oli, atau kalau masih kesulitan menemukannya tinggal tanya pada penduduk setempat “dimana tempat nampal ban”.


Ya. Tampal Ban, begitulah penduduk setempat menuliskannya dan itu bukan salah tulis tapi memang mengucapkannya juga tampal ban, kalau menjadi kata kerja menjadi nampal ban(menambal ban). Bahkan saya pernah membaca edaran resmi dari pejabat setempat yang menuliskan tertib menjadi tertip, sehingga Kamtibmas menjadi Kamtipmas atau ketertiban menjadi ketertipan.


Lucunya, ketika pertama kali merantau ke pulau jawa, saya malah menyalahkan para tukang tambal ban yang kebanyakan dari etnik batak yang salah menulis Tambal Ban, karena sepengatahuan saya yang benar ya Tampal Ban itu.


24 March 2008

Telegu = Mencium Jauh

Televisi(tele=jauh, vision=lihat), artinya menonton jarak jauh

Telepon(tele=jauh, phone=suara), artinya berbicara jarak jauh

Telegraf(tele=jauh, graph=huruf), artinya menulis jarak jauh

Teleskop(tele=jauh, scope=ruang), artinya melihat ruang jarak jauh

Bertele-tele, artinya berbicara panjang lebar,

Kalau bau kentut tercium dari jauh disebut ..............
Telegu


nb:
telegu adalah binatang hutan berbulu mirip kucing(bukan kucing hutan), mempunyai cara pertahanan dengan mengeluarkan bau yang sangat tajam bahkan menurut sebagian orang rumput yang terkena kentut telegu akan langsung mati

18 January 2008

Batak keluar

Sebelum berhasil di Jakarta, Bonaga anaknya Naga Bonar pernah merantau di bumi besemah, namun walaupun anak seorang jenderal menghadapi orang besemah membuat Bonaga menjaga sikap.

Pertama kali Bonaga datang di terminal Prabumulih, mencari taksi jurusan Lahat seperti yang diterangkan dalam surat pamannya, namun Bonaga tidak menemukan mobil sedan yang ada hanya angkutan umum biasa, tak mau menunggu Bonaga langsung naik bis yang sudah agak penuh.

”batak ke pucuk!”,

teriak kondekturnya sambil menunjuk ke atas, akhirnya Bonaga naik keatap bis membawa tas besarnya.

Tak berapa lama, bis berhenti untuk menurunkan penumpang.

”batak ke dalam!”,

teriak kondekturnya lagi, Bonaga pun turun dan masuk kedalam bis.

Ketika ada penumpang baru datang, kondektur itu berteriak kepada temannya

”batak ke dalam!”,

mendengar teriakan itu Bonaga yang merasa sudah didalam cuma diam sambil berkata dalam hati

”dasar tukang perintah, apa dia tidak melihat saya sudah di dalam dari tadi”

Sesaat kemudian bis berhenti lagi untuk menurunkan penumpang, kodekturnya kembali berteriak

”batak keluar!”,

Bonaga sebagai orang batak merasa dilecehkan, dia pun menghampiri kondektur tersebut dengan marah-marah

”yang benar saja, bang!, kau suruh aku ke atas aku turuti, kau suruh aku kedalam aku turuti, sekarang masak kau suruh aku keluar sedangkan aku belum sampai”

”siapa yang nyuruh-nyuruh, saya cuma nyuruh teman saya bawa barang, tadi saya nyuruh teman saya bawa barang bapak itu keluar, karena dia berhenti disini”, jawab kondektur tersebut

*taksi=angkutan umum
**batak=bawa(lahat dsk)

22 December 2007

Jeruk Kecut

Mang Toha adalah seorang pedagang buah yang sehari-hari mangkal di depan sebuah toko di jalan Sudirman kota prabumulih, suatu hari datang seorang calon pembeli yang turun dari mobil dan pakai seragam karyawan PT. TEL.

”mau beli apa pak?” sapa mang Toha ramah.

”mau beli jeruk, berapaan sekilonya?” jawab pembeli sambil balik nanya.

”murah pak, cuma tujuh ribu sekilo, bapak mau berapa kilo?” sahut mang Toha sambil mengeluarkan kantong asoi(kresek) dari saku celananya.

”tiga kilo aja mang,!” jawab si pembeli.

Dengan gesit mang Toha pun mulai membantu pembeli memilih jeruk sambil menyiapkan dacing, setelah dirasa cukup kemudian ditimbang.

Selagi mang Toha menimbang, si pembeli iseng nanya
”jeruknya kecut nggak mang?”

Tak disangka, mang Toha dengan emosi yang meledak membentak pembeli
”raih(muka) kau kecut..!, kamu lihat sendiri dan kamu yang pilih sendiri, jeruk segar begini kau bilang kecut...ha!!”

Setelah itu mang Toha mengeluarkan jeruk yang sudah di dalam kantong asoi.
Si pembeli yang ternyata orang sunda ini bengong, sambil melangkah pergi(tanpa jeruk tentunya) dia bergumam
”apanya yang salah..!??”

*kecut=asem(sunda), keriput/ tidak segar(prabumulih dsk)
*dacing=timbangan
-------------------------
dikirim oleh Abu Bakrin via SMS, alumnus SMP gerinam angk.1990-1993(namun tidak terlibat kasus ngerawan), bapak dari Naila ini sedang menyelesaikan S1 dan bekerja pada instansi pemerintah di prabumulih.

13 December 2007

Gara-gara Kayu Ngerawan

Ketika akan membangun kebun(taman) sekolah di SMP Gerinam, semua murid diberi tugas untuk membawa kayu, kalau membawa kayu anakan(sebesar ibu jari) harus membawa 20 batang, tapi kalau membawa jenjam(kayu besar) cukup dua batang perorang.

Hari senin saat murid yang lain membawa kayu, Yus, Anto dan Majid cuma membawa parang sambil mengolok-olok temannya yang susah-susah membawa kayu dari dusun yang jauh, rencananya mereka bertiga akan mencari kayu di hutan dekat sekolah.

Saat istiarahat, melihat kayu yang mereka bawa dipisahkan dari tumpukan kayu lain, dengan bangga Yus berkata :
“lihat tuh, cuma dengan modal parang, kami akan mendapatkan nilai besar karena membawa kayu yang bagus, lurus-lurus lagi”.

Tak lama berselang, terdengar suara Pak Sushadi lewat speaker :
“barang siapa yang membawa kayu yang diletakkan di depan TU, harap berkumpul di ruang Kepala Sekolah”.

Keluar dari ruang Kepsek, wajah ketiganya tampak lesuh, ternyata kayu yang mereka ambil adalah jenis ngerawan yang masih sebesar lengan, kalau sudah besar harganya mahal sekelas kayu jati.
(ini adalah kejadian nyata sekitar tahun 1990)
*ngerawan/merawan(hopea spp)
----------------
tambahan dari Yus :
pelakunya saya(Yus), Anto, Redi(majid nama bapaknya) dan Sudarman.
setelah nego orangtua siswa, pihak sekolah dan pemilik kebun akhirnya perorang kena Rp. 5.000

12 November 2007

Boten Ngertos

Yanti baru menyelesaikan SD di Muara Enim, diajak bapaknya berlibur ke Kalisube Banyumas, desa kelahiran Bapaknya, ditemani buliknya, yanti diajak nyekar ke kuburan mbahnya.
Karena baru pertama kali ke jawa, banyak pertanyaan terlontar dari mulutnya

“weeii..! rumah itu besar sekali, bagus lagi. Bulik tahu nggak punya siapa ?” tanya yanti penasaran.

“boten ngertos.” jawab buliknya yang memang tidak mengerti bahasa indonesia.

“ooh!!”
“mobil itu punya boten ngertos juga, ya ?” tanya yanti lagi.

“ya!” jawab bulik sekenanya.

Sebelum sampai ke kuburan mbahnya, mereka melewati banyak kuburan lainnya.

“bulik, itu kuburan yang tidak terurus itu punya siapa ?”

“boten ngertos.” Sahut buliknya sambil membuka bungkusan kembang.

“kasihan sekali pak boten ngertos, saat hidupnya kaya raya tapi kuburannya tidak ada yang merawat” gumam Yanti dalam hati

*boten ngertos(banyumas dsk) = tidak tahu

08 October 2007

Seribu Ringgit

Aran yang baru pertama mengunjungi neneknya di Rambang Dangku sangat antusias menawar sebuah durian yang dijual di kalangan.

“derian besak ini berape regenye, jut ?..” tanya Aran pakai bahasa daerah setempat yang baru dipelajarinya beberapa hari dari alif sepupunya.

“seribu ringgit bae, cung..” jawab kajut (nenek) tersebut.

“nenek ini gaul juga, pakai mata uang malaysia segala, pasti maksudnya seribu rupiah nih, mumpung murah nggak usah ditawar”. pikir Aran dalam hati

“ya udeh jut, beli sikok!” setelah membayar uang seribu Aran beranjak membawa duriannya.

“tunggu, cung. duetnye kurang tengah due ribu” cegah kajut itu.

“tengah due ribu?...” Aran tambah bingung

Alif sepupunya yang baru datang mendengarkan penjelasan kajut penjual durian tersebut, kemudian menjelaskan kepada Aran , bahwa istilah ringgit bukan mata uang malaysia yang dia kenal tapi seperti gopek, cepek, noceng sebagai istilah pasar.

* seribu ringgit = Rp. 2.500 (1 ringgit=2.5)
* tengah due ribu = Rp. 1.500 (tengah due=1.5)

28 September 2007

Mas Katek Bisa Ngilang

Sumber : Sumadie (via SMS)

Asep sang jawara Banten baru datang di stasiun kereta api di Prabumulih, langsung bergegas mencari WC umum, karena pintu WC tertutup asep bertanya pada anak yang sedang nongkrong di sekitarnya.
“siapa didalam ?..” Tanya asep sok seram.
“katek!!!..” sahut anak itu sambil berlalu pergi
setelah lama menunggu, pintu WC belum terbuka juga, asep menggerutu
“kurang ajar, belum kenal saya”
akhirnya kesabaran asep habis, sambil mendobrak pintu dia berteriak,
“keluar..!!”
“hahh…, koq nggak ada orang didalam, hebat juga mas katek, punya ilmu ngilang….”

*katek/dak katek = tidak ada

18 September 2007

Cuka kicap

Seorang guru yang baru tugas di dusun baturaja, melihat ibung yang sedang memotong-motong juadah, karena guru tersebut terlihat penasaran ibung tersebut langsung menyodorkan sepotong untuk dicicipi, sambil menguyah penganan berwarna hitam tersebut, dia bertanya,
“terbuat dari apa kue ini ?..”
“cuka kicap !!..” sahut ibung tanpa mengindahkan pertanyaan si guru.
Setelah menghabiskan sepotong juadah dia berkomentar,
“enak sekali cuka sama kecap ini …..”

*cuka kicap = coba cicip