15 August 2008

Perbaikan Budidaya Karet

Yayasan Tambuhak Sinta (YTS), yayasan yang berkarya di Kec. Kahayan Hulu Utara, Kab. Gunung Mas, Palangka Raya, dengan didukung sepenuhnya oleh pemerintah setempat mencoba membantu dengan memfasilitasi masyarakat melakukan perbaikan-perbaikan teknik budidaya karet masyarakat menuju budidaya yang berkelanjutan.
Dengan perpaduan teknis modern dan kearifan lokal, diharapkan dapat peningkatan hasil yang lebih memuaskan, ramah lingkungan serta berkelanjutan. Dalam pendampingan tersebut dilakukan beberapa aktivitas, yaitu:

1. Perbaikan cara bercocok tanam
Kebiasaan masyarakat setempat setelah membuka lahan adalah m
enanam padi (padi gunung), yang langsung diikuti dengan penanaman karet atau setelah panen padi selesai di lahan yang sama. Setelah mengikuti pelatihan, masyarakat mulai memperbaiki cara pengelolaan lahannya yang diawali dengan pengaturan jarak tanam. Karet ditanam dengan jarak yang teratur seukuran 3x7, 4x6, atau 5x5 meter untuk lahan datar. Sedangkan, untuk lahan yang berbukit-bukit mereka menggunakan sistem kontur “A” untuk
menyesuaikan dengan kemiringan bukit sehingga mempermudah pemeliharaan karet dan penyadapan menjadi efektif dan efisien.

2. Penggunaan tanaman sela
Sementara menunggu tanaman karet menghasilkan, masyarakat membudidayakan tanaman sela seperti jenis kacang-kacangan, lombok, terong, semangka, dan lain sebagainya. Mereka juga tetap menanam padi pada musim tanam berikutnya. Musim tanam padi gunung adalah Oktober-Maret. Adanya tanaman sela secara tidak langsung turut membantu pemeliharaan karet karena tanaman sela memerlukan perawatan teratur, sepert
i pemupukan dan pembersihan gulma. Kegiatan ini dilakukan sampai lahan tidak mungkin lagi ditanami karena ternaungi tanaman karet yang sudah mulai rimbun. Dengan demikian, karet bebas dari gulma dan lahan tetap menghasilkan tanaman yang bermanfaat bagi kebutuhan mereka.

3. Perbaikan cara menyadap karet
Awalnya petani menyadap karet dari kiri atas ke kanan bawah dan dari kanan atas ke kiri bawah dengan menyebabkan 2 mata luka, atau menyadap dari kanan atas k
e kiri bawah (lihat foto ). Sering juga hasil torehan menimbulkan pelukaan sampai ke jaringan kayu, sehingga menimbulkan kerusakan bidang sadap.
Ini mengakibatkan masa panen yang seharusnya bisa mencapai 30 tahun menjadi hanya 5 tahun atau tidak berkelanjutan. Setelah memahami teori tentang pohon karet dan membandingkan hasilnya dengan kebiasaan menyadap sebelumnya, kini masyarakat menyadap karet dari kiri atas ke kanan bawah dengan seminim mungkin menimbulkan pelukaan sehingga akan menghemat bidang sadap. Hal ini diakui pula oleh Tondan (45 th), petani karet dari Desa Tumbang Manyoi. Menurutnya, teknik penyadapan yang benar seperti yang disampaikan oleh fasilitator dari YTS, menjadikan proses penyadapan lebih efektif dan menguntungkan.

4. Kearifan lokal dalam cara membekukan latex
Setelah melakukan perbandingan kebiasaan setempat membekukan latex menggunakan saing/umbi gadung (Dioscorea hispida Dennst) dengan tempat lain yang menggunakan tawas, masyarakat akhirnya memutuskan bahwa lebih baik menggunakan saing. Karena hasil pembekuannya ternyata lebih baik. Selain itu, bahannya berasal dari tumbuhan yang banyak hidup di daerah setempat, sehingga mudah didapat dan tidak memerlukan biaya.

5. Teknik okulasi sebagai salah satu cara meningkatkan produktivitas karet lokal.
Dari pengalamannya selama ini, para petani mengetahui bahwa di kebun karet mereka terdapat beberapa pohon karet yang memiliki latex yang cukup banyak, melebihi dari pohon-pohon yang lainnya. Oleh karenanya untuk meningkatkan produktivitas karet lokal, dilakukan pembudidayaan dengan mengambil mata entris dari dahan pohon karet tersebut untuk ditempelkan pada bibit karet yang telah disiapkan sebelumnya pada lahan pembibitan karet lokal. Lalu tanaman tersebut dipergunakan sebagai batang entris yang akan diambil mata entrisnya untuk ditempelkan pada bibit persemaian lokal selanjutnya. Dengan demikian diharapkan karet lokal yang bermutu tinggi akan cepat dihasilkan dan dibudidayakan masyarakat setempat secara luas. Sehingga terjadi kenaikan tingkat
produksi dan mutu karet, yang selanjutnya akan meningkatkan pendapatan petani.

Suwandi-Yayasan Tambuhak Sinta

13 August 2008

Mitologi Rambang Dangku

Manusia Harimau

Banyak kisah yang berkembang tentang adanya manusia harimau, di daerah Siku ada cerita dua orang saudara ipar sehabis berburu Napo beristirahat sejenak, sang kakak kemudian bercerita bahwa dia sebenarnya punya ilmu harimau, karena penasaran adiknya ingin melihat kakaknya merubah wujudnya menjadi harimau, untuk memenuhi permintaan adiknya, ia kemudian menggantung napo hasil buruan ke dahan pohon dan menyuruh adiknya naik ke atas pohon setinggi-tingginya kemudian berpesan kalau ingin dia berubah kembali jadi manusia tinggal panggil namanya.

Kakaknya kemudian mulai membaca mantera, perlahan-lahan terlihat perubahan terjadi pada kakaknya, ketika sudah berubah menjadi harimau, dalam keadaan lapar naluri binatangnya keluar, napo hasil buruan mereka langsung diterkamnya, adiknya ketakutan setengah mati diatas pohon tak ingat pesan kakaknya.
Sejak kejadian itu kakaknya yang sudah berubah wujud menjadi manusia mengantarkan adiknya pulang, kemudian dia pergi meninggalkan kampungnya.

Di desa Baturaja bercerita tentang manusia harimau tidak bisa lepas dari kisah Raden putra Alimimpar, bermula ketika Raden kecil kabur dari rumah karena dimarahi bapaknya, setelah lama tidak pulang sebagian penduduk setempat melihat seorang anak kecil yang badannya dipenuhi bulu, sehingga orang percaya kalau Raden sudah berubah menjadi manusia harimau.

Pernah ada kejadian ketika adiknya dipukul suaminya Daud, tiba-tiba dia diserang sesuatu yang tidak tampak, atau ada juga petani yang ke kebun/talang membawa ibat(sangu) ternyata habis secara misterius, masyarakat setempat percaya kalau itu perbuatan Raden yang menggunakan ilmu tak tampak.

Pada saat musim durian, kadang-kadang dia mendatangi orang yang menunggu durian jatuh untuk minta buah durian, karena memang dia sangat menyukai buah tersebut, orang tersebut hanya mempersilahkannya mengambil sendiri durian dibawah sudung, namun keesokan paginya orang tersebut tidak melihat jejak kaki manusia di tanah yang becek, yang ada hanya jejak kaki harimau.

Melburu

Gambaran Melburu menurut masyarakat Rambang Dangku adalah manusia berkepala anjing yang selalu membawa tongkat, siapapun yang berhasil merebut tongkat tersebut darinya, maka Melburu tersebut akan mengabulkan apapun permintaan orang yang merebut tongkatnya, asalkan tongkatnya dikembalikan.

Menurut riwayat orang dulu, Melburu sebenarnya seorang raja yang sangat sakti dan suka memamerkan kesaktiannya, yaitu kepalanya kalau dipotong akan menyatu kembali tanpa bekas sedikitpun, karena kesal dengan kelakuannya tersebut, saat kepalanya sedang dipotong ada yang menceburkan kepalanya kedalam sumur yang sangat dalam, kemudian menggantinya dengan kepala anjing.

Karena malu, akhirnya dia meninggalkan kerajaanya, dan selalu menghindar kalau bertemu manusia, sehingga hanya sedikit orang yang pernah melihat Melburu secara langsung, yang kadang terlihat di batangari dalam hutan sedang mencari siput.

Dugok

Hidup di dalam sungai, berwujud seperti kera dan mempunyai rambut panjang, rambut tersebut digunakannya sebagai senjata untuk menjerat mangsanya untuk dihisap darahnya, sebagian menganggap kalau naik kedaratan dia akan berubah wujud menjadi kuntilanak.

Tidak ada yang tahu pasti, apakah Dugok ini termasuk makhluk halus penunggu sungai atau hanya binatang air, namun masyarakat Rambang Dangku sangat percaya akan keberadaan Dugok


12 August 2008

Cerita Orang Orang Dahulu

Mat Aliudin
Ketika kerajaan palembang menghadapi ancaman musuh, raja(sunan) memanggil orang-orang sakti untuk minta bantuan, menghadaplah Mat Aliudin yang sedang bisulan kaki berjalan terpincang-pincang, melihat hal tersebut diusirlah dia dari istana karena tidak ada tampang sedikitpun kalau dia adalah orang sakti.

Ketika hendak pulang dia pergi ke sungai lematang membentangkan kain putih di permukaan air kemudian langsung duduk bersila diatas kain tersebut dalam keadaan terapung, menyaksikan keganjilan tersebut petugas istana langsung memanggilnya ketika melihat kain yang didudukinya mulai bergerak melawan arus.

Akhirnya desa tempat asal Mat Aliudin tersebut diberi nama Bantu Raja, karena dia berhasil membantu raja dengan kesaktiannya.

Ada juga yang berpendapat kata Bantu Raja didapat ketika ada kapal kerajaan yang sedang melewati sungai lematang yang sedang dangkal karena kemarau tersangkut, kemudian dibantu penduduk desa mendorong kapal tersebut.
Dalam perkembangannya desa Bantu Raja berubah menjadi Baturaja ketika jaman penjajahan Jepang.

Puyang Naneng
Ada cerita unik ketika pertama kali jepang datang ke marga Dangku, ketika di desa Kuripan(bagian hulu baturaja) mereka diberitahu desa Bantu Raja hanya berjalan ke hilir melewati hutan dipesisir sungai lematang, ternyata yang mereka temukan desa Dangku(bagian hilir baturaja), di Dangku mereka diberitahu kalau mereka sudah melewati Bantu Raja untuk itu mereka harus kembali berjalan ke hulu, setelah kembali mereka sampai ke desa Kuripan lagi, begitu seterusnya sampai akhirnya ada pegawai pesirah yang membantu pasukan jepang, melihat daerah yang seharusnya tempat pemukiman penduduk Bantu Raja menjadi hutan berupa pohon besar-besar dan setiap pohon terlihat gembok yang biasanya dipasang pada pintu rumah.

Penduduk desa Baturaja percaya puyang Naneng selalu datang membantu keturunannya(penduduk desa baturaja) setiap ada bahaya yang mengancam, pasukan jepang tidak bisa menemukan desa baturaja karena pandangan mata mereka melihat rumah penduduk sebagai pohon sehingga mereka hanya merasa melewati hutan saja.

Bahkan dulunya angkong yang melewati desa Baturaja, harus memukul gong kalau tidak akan ada kerusakan pada angkong tersebut, entah sapinya ngamuk atau rodanya patah

Pateh Kepur
Pada sistem pemerintahan marga, kepala desa disebut keriye. walaupun sebenarnya Pateh kepur bukan penduduk asli, Pateh kepur disebut-sebut sebagai keriye pertama yang memerintah di desa baturaja, salah satu tempat bekarang yang banyak ditunggu adalah Lubuk Kepur karena paling lama keringnya dan banyak ikannya, selain itu nama Pateh Kepur sekarang menjadi nama jalan utama yang melewati desa baturaja

Dayang Rindu
Legenda Dayang Rindu sudah menjadi milik rakyat Muara Enim, sedikit yang tahu bahwa Dayang Rindu berasal dari desa Baturaja bahkan orang baturaja sendiri, karena setelah dinikahi Rie Carang pemuda dari desa Banuayu mereka menetap di daerah sekitar batangari Niru, bahkan pabrik kertas PT. Tanjung Enim Lestari sebagian didirikan diatas tanah milik keturunan Dayang Rindu, ceritanya justru berkembang didaerah Rambang Niru(Tanjung Raman, Simpang Niru dan sekitarnya) sebagai tempat tinggalnya setelah pertarungan dua pemuda yang memperebutkan dirinya di tempat asalnya desa Baturaja.

* pesirah = kepala pemerintahan marga
* angkong = alat angkutan seperti pedati yang ditarik sapi

23 July 2008

Hobby baruku

Sudah hampir sebulan saya tidak meng-update blog-blog saya, karena saya telah dilenakan kegilaan baru yaitu googling ebook, ebook yang terakhir adalah novel tetralogy(sebenarnya baru tiga) karya Andrea Hirata yang berkisah tentang riwayat hidup penulis yang berasal dari pedalaman Belitung(ditulis belitong) yang akhirnya bisa menyelesaikan gelar S2-nya di Prancis.
Novelnya terdiri dari empat seri(tetralogy), novel pertama Laskar Pelangi berkisah tentang 10 anak satu kelas dari SD sampai SMP Muhammadiyah dengan segala suka dukanya, kenakalan dan kegilaan yang diceritakan dengan indah.

Novel kedua Sang Pemimpi bercerita tentang perjuangan tiga sahabat dalam mewujudkan mimpi mereka, berjuang membiayai sekolah(SMA) dengan keringat sendiri, kekompakan, kesetiakawanan yang tinggi, hingga akhirnya Arai dan Ikal pergi merantau dibekali celengan kuda oleh Jimbron yang memilih kerja di peternakan di kampung sendiri.

Novel ketiga Edensor adalah kisah Arai dan Ikal yang berkelana di negeri orang, kisah pencarian cinta ikal kepada A ling, gadis yang memberikannya novel sebagai tanda perpisahan, novel tersebut menceritakan keindahan sebuah desa yang akhirnya desa tersebut ditemukan ikal.

Novel keempat Maryamah Karpov yang sudah ditunggu-tunggu penggemar karya Andrea kabarnya tidak akan keluar sebelum Film Laskar Pelangi tayang, Filmnya sendiri kabarnya akan ditayangkan saat libur lebaran, film yang dibintangi Cut Mini, Tora Sudiro, Alex Komang beserta bintang-bintang baru dari anak-anak belitung mengambil setting di lokasi asli Belitung Timur.

Kita tunggu tanggal tayangnya, bagi yang belum baca, harus baca novelnya, karena Riri Reza yang mensutradarainya akan membuat cerita film berbeda dengan versi novel.

12 June 2008

Ting… Ting… Perutku Genting

“Ting… ting… perutku genting karena tidak makan” ucap seorang anak kepada ibunya
“sabar nak, emak baru saja mau menanam bibit padi” sahut ibunya

“Ting… ting… perutku genting karena tidak makan” ucap si anak lagi setelah beberapa hari kembali menagih.
“sabar nak, sekarang padi baru berbuah, emak harus menjaga padi” bujuk ibunya

“Ting… ting… perutku genting karena tidak makan” rintih si anak semakin lemah
“sabar nak, emak mulai ngetam nanti langsung emak jemur”

“Ting… ting… perutku genting karena tidak makan” rintihan anaknya semakin tidak terdengar.
“sabar nak, gabahnya sudah kering nanti emak giling”

“Ting… ting… perutku genting karena tidak makan”
“sabar nak, berasnya sudah jadi nanti langsung emak masak biar kamu bisa makan nasi”
Bujuk ibunya cemas

“tapi mak, perut saya tambah genting…maaak…”
“ting……”

Walaupun dongeng tersebut sering diceritakan sewaktu saya masih kecil tetapi saya tak pernah tahu maksud dongeng tersebut, bisa jadi hanya menggambarkan proses yang panjang terjadinya nasi supaya anak anak lebih menghargai arti sebutir nasi.
Bisa juga menggambarkan kesabaran ibu dan anak, atau kalau sekarang bisa juga menggambarkan pemerintah yang ingin memakmurkan rakyatnya namun sebelum itu terwujud rakyatnya sudah mati duluan, atau bahkan tidak berarti apa apa hanya sekedar pengantar tidur si buyung atau lelucon kosong



06 June 2008

Ringke Nian

Lirik lagu dibawah ini mungkin satu-satunya lirik lagu yang seluruhnya menggunakan bahasa daerah marga dangku(yang sekarang menjadi kecamatan rambang dangku), mungkin selama ini lirik lagu yang saya tampilkan berasal dari playlist MP-nya mang Ilman Zuhriyadi, namun lagu ini tidak akan anda temukan disana karena lagu ini saya temukan dalam bentuk keping VCD(bukan format mp3) yang tidak mungkin saya upload ke MP saya, sehingga hanya saya tampilkan liriknya

Ringke nian
Cipt : Usman Urha

Semenjak nginak dengan
Aku jadi penasaran
Sehingge aku ribang
Nggok dengan ringke nian


Reff…
Gaya dan rupe dengan
Ringke alap menawan
Ati rase tetawan
Tesirak dipikiran 2x

Sukar nuntut bandingan
Lok dengan ringke nian

Pecayelah padeku
Aku sayang nggok dengan
Walau s’ribu penghalang
Kasih saying dek luak

Puas aku berayau
Kesane sini medang
Lah banyak yang ku ribang
Dekde ringke lok dengan

02 June 2008

Mencari Sumber Air

Pada saat kemarau, air yang mengalir di batangari(anak sungai) menjadi kering, padahal batangari adalah sumber air utama bagi petani di talang, kalau untuk sekedar minum dalam keadaan darurat mereka bisa memotong tumbuhan akar yang merambat pada pohon besar kemudian mendongak untuk menampung air yang mengalir dari potongan akar tersebut, tapi untuk menyiram tanaman mereka harus menggali sumur.

Bagi para masyarakat petani, sangat penting memilih tempat yang tepat untuk menggali sumur, salah salah bisa saja menggali sudah sangat dalam namun tidak ada mata air yang ditemukan atau walaupun ada tapi sedikit.

Masyarakat pedesaan punya cara sendiri untuk memilih tempat yang cocok untuk menggali sumur yaitu dengan cara menyebarkan daun pada malam hari di halaman yang akan digali kemudian paginya dilihat daerah mana yang paling banyak embun yang menempel pada daun yang disebar tadi malam maka daerah itulah yang paling cocok untuk menggali sumur. Lebih mudah lagi kalau mau membuat sumur dikebun karena tidak perlu menyebar daun, cukup melihat embun pada daun di pohon.

Cara tersebut ternyata berlaku juga pada masyarakat jawa, Pak Podo contohnya, selain menjadi karyawan pabrik di Serang Banten, dia sering diminta tolong untuk menggali sumur, karena cerita dari orang orang yang pernah memakai jasanya, sumur yang digali olehnya selalu mempunyai sumber air yang banyak, karena dia menerapkan ilmu melihat embun sebelum memutuskan tempat yang dipilih untuk dijadikan sumur, sama persis seperti yang dilakukan petani di Rambang Dangku

16 May 2008

Revitalisasi Sistem Marga Wujud Demokrasi Lokal

Oleh : Harry Truman*

Awal tahun ini Asosiasi Advokat Konstitusi meminta Makamah Kontitusi Indonesia untuk melakukan uji materiil terhadap Surat Keputuasn (SK) Gubernur Sumatera Selatan No.142/KPTS/III/1983 tentang penghapusan sistem marga di Sumatera Selatan. Asosiasi Advokat Konstitusi mengangap bahwa SK Gubernur Sumatera Selatan tersebut bertentangan dengan pasal 18 B ayat 2 UUD 1945. Dalam penjelasan pasal 18 UUD 1945 tersebut disebutkan, "dalam teritorial Negara Indonesia terdapat ± 250 Zelfbesturreende Landschappen dan Volksgemeenschappen seperti desa di Jawa dan Bali, Nagari di Minangkabau, Dusun dan Marga di Palembang dan sebagainya. Daerah-daerah itu mempunyai susunan asli, dan oleh karenanya dapat di anggap sebagai daerah yang bersifat istimewa"

Hadirnya SK Gubernur tersebut sangat dipengaruhi oleh UU No. 5 Tahun 1979 tentang Pemerintahan Desa. Dalam UU 5/1979 ini secara tegas mengarah pada hegemonisasi bentuk dan susunan Pemerintahan Marga dengan corak nasional (Jawa) yaitu desa. Sehingga terjadi konversi Marga ke dalam struktur desa yang merupakan model pengorganisasian masyarakat menurut sistem Jawa.

Dalam SK yang diterbitkan pada tanggal 24 Maret 1983 tersebut menyatakan, pertama pembubaran sistem marga di Sumatera Selatan. Kedua, Pasirah (pemimpin Marga) dan semua instrumen Marga dipecat dengan hormat. Ketiga, dusun, didalam sebuah Marga, diganti dengan desa sesuai dengan definisi yang ada pada UU No.5/1979. Keempat, Kerio sebagai kepala dusun, akan menjadi kepala desa yang akan ditunjuk melalui pemilihan kepala desa sesuai dengan UU No.5/1979.

Apa yang dilakukan oleh Asosiasi Advokasi Kontitusi diatas mungkin merupakan sebuah langkah awal dari sisi hukum formal untuk merevitalisasi sistem marga di Sumatera Selatan. Sebelumnya, berbagai desakan juga muncul misalnya dari Dewan Pembinan Adat Sumatera Selatan kepada Gubernur Sumatera Selatan yang saat itu dijabat oleh Rosihan Arsyad untuk segera mencabut SK tersebut. Dewan Pembina Adat menilai bahwa sistem Pemerintahan Marga secara historis telah membuktikan terjaminnya kesejahteraan rakyat dibanding dengan sistem lain yang pernah atau yang sedang berlaku dewasa ini. Namun ada juga beberapa kalangan yang menilai kembali ke sistem Pemerintahan Marga merupakan pemikiran yang dipengaruhi oleh sisa-sisa feodal yang hidup di era kolonialisme dan tidak sesuai lagi dengan era reformasi sekarang ini.

Namun perlu dipahami bahwa Marga sudah lama menjadi bagian dari identitas dan basis kehidupan masyarakat lokal di Sumatera Selatan. Sebagai entitas self-governing community, Marga mempunyai seperangkat hukum adat untuk mengelola hubungan sosial; seperti adat hak waris, pernikahan, gotong-royong, penyelesaian konflik antar warga adat, nilai-nilai penghargaan etnis pendatang, tata cara menjaga wilayah tanah (kedaulatan) masyarakat adat, membagi sumberdaya ekonomi secara komunal dan adil serta mengatur sistem Pemerintahan lokal secara otonom.


Demokrasi Dalam Sistem Marga


Sejak diberlakukannya UU No 5/1979 tentang Pemerintahan Desa maka terjadi konversi Marga ke dalam struktur desa yang merupakan model pengorganisasian masyarakat menurut sistem di Jawa. Konversi itu kemudian juga berdampak pada hancurnya identitas, kepemimpinan lokal, otonomi adat, serta pola hubungan sosial di tingkat Marga. Marga yang dulu tumbuh dan berkembang dengan kearifan lokal yang unik dan disokong berbagai perangkat kelembagaan dan kekuasaan yang khas, diubah menjadi desa yang monoton.

Konversi itu juga telah menyebabkan terjadinya pergeseran gagasan demokrasi dalam Pemerintahan Marga. Demokrasi Marga yang dulu dibingkai dengan tiga tata kelola yaitu tata kerama (fatsoen), tata susila (etika) dan tata cara (aturan main) atau rule of law yang dihasilkan dari kontak sosial masyarakat, menjadi demokrasi yang hanya mengandalkan kompetisi politik belaka. Para pemimpin dan masyarakat Marga hanya melihat bahwa demokrasi akan berjalan apabila terjadi kompetisi yang bebas, partisipasi masyarakat, pemilihan secara langsung dengan prinsip one man one vote.

Revitalisasi Sistem Pemerintahan Marga

Moment untuk revitalisasi sistem Pemerintahan Marga sebenarnya telah terbuka lebar bagi masyarakat di Sumatera Selatan. Sejak diberlakukannya Undang-Undang No. 22 Tahun 1999 tentang Otonomi Daerah (sekarang menjadi UU No.32 Tahun 2004) telah memberikan inspirasi baru bagi komunitas adat di seluruh tanah air. Beberapa daerah kemudian dengan sangat baik mampu memanfaatkan momentum ini, misalnya dengan memberlakukan kembali sistem Pemerintahan Nagari di Sumatera Barat, Gampong di Aceh dan lain sebagainya.

Namun sistem marga di Sumatera Selatan sampai saat ini belum menunjukkan tanda-tanda akan diterapkan lagi sebagai sistem Pemerintahan terendah di bumi Sriwijaya.
Dengan melakukan revitalisasi sistem pemerintahan Marga maka gagasan demokrasi yang selama ini dianut oleh masyarakat sebagai basis sosial ditingkat Marga akan terwujud.

Untuk menerapkan sistem marga ini, tentu harus juga dibarengi “good will" para elite lokal di Sumatera Selatan. Yang terpenting masyarakat juga harus melihat sistem marga ini sebagai identitas dan kearifan lokal yang dimiliki oleh masyarakat Sumatera Selatan bukan sesosok “monster" yang menakutkan, yang sewaktu-waktu dapat merenggut kebebasan dan membalikan ide demokrasi ditingkat lokal.


*Mahasiswa Pascasarjana, Program Studi Ilmu Politik, Kosentrasi Politik Lokal dan Otonomi Daerah, UGM, Yogyakarta dan Staf Peneliti Pada Kajian Politik dan Pembangunan Kawasan, Center for Humanity and Civilization Studies (CHOICES)

Disunting dari http://adetaris.multiply.com/journal


Link

13 May 2008

Memanggil dan Mengusir Binatang

Masyarakat rambang dangku punya cara sendiri dalam memanggil dan mengusir binatang, berikut ini yang masih bisa saya ingat.

Memanggil binatang :

kambing, kendek...kendek...

bebek, irik...irik...

ayam, kerrr..kerrr...

anjing, kuyuk...kuyuk...

khusus untuk sapi biasanya punya nama sendiri sehingga dipanggil menggunakan namanya, kebanyakan sapi dipanggil si koneng, mungkin karena warna kulitnya mayoritas kuning.

Mengusir binatang :

kambing, buak!

Bebek / ayam, syioh!

Kucing, cipas!

Burung pipit, ahat…ehet

Kata kata usiran tersebut juga bisa menjadi kata kerja, misalnya mbuakke kambing artinya mengusir kambing, nyipaske kucing dll.

Selain itu ada beberapa mantera yang sering di ucapkan dalam kehidupan sehari-hari, seperti :

abang abang mateari, puteh itam mateku

(merah merah matahari, putih hitam mataku)

setelah berjam-jam mandi di sungai, membuat mata menjadi merah. Nah... mantera ini di ucapkan untuk mengembalikan mata merah menjadi normal.

Kuyuk...kuyuk...aman beteme ku capakke

(kuyuk...kuyuk...kalau ketemu akan saya buang)

mantera ini diucapkan sambil mencari barang yang hilang, kalau barang yang dicari akhirnya ditemukan, tentu saja tidak akan dibuang.

situ lalang, sini ayek

(disana rumput ilalang/alang-alang, disini sungai)

Mantera untuk mengusir asap,

05 May 2008

Bujang Alap

Siape name bujang alap tunak itu
Oi ilok nian oi alap nian
Alangkan senang aman die behusek
Ke humah adeng dimalam ini

Marilah kakang behusek ke humah kami
Adengkan senang dibuseki malam
Tunggulah kudai adeng kan buat kupi
Maen ke humah kite becerite

Dimalam ini
kite bekance
Ngerawai saje
tetawe tawe

Dikde disangke
dikde diduge
Kite bedue
lah jadi kance

01 May 2008

Jembatan Teluk Lubuk Gunakan ”Double” T

MUARAENIM, SRIPO(25 Januari 2005) —
Kita patut berbangga hati. Pasalnya, jembatan Teluk Lubuk-Muaraenim merupakan jembatan rangka baja pertama kali di Indonesia menggunakan teknologi balok beton pracetak pra-tegang berpenampang “Double T” dan keenam dalam pemasangan eksternal prestressing. Diharapkan bisa menjadi sumbangan berharga bagi dunia kontruksi jembatan di Indonesia, kata Dirut PT MHP (Musi Hutan Persada) Ir H Joedarsono Djojosoebroto, MMA, Senin (24/1) dalam kunjungan peresmian Gubernur Sumsel, Ir Syahrial Oesman, MM di Desa Teluk Lubuk-Muaraenim.

Menurut Joedarson, jembatan Teluk Lubuk yang membentang di atas Sungai Lematang sepanjang 140 meter sudah dioperasikan sejak 16 April 1987 lalu berkontruksi rangka baja Australia dan lantai jembatan dari beton konversional. Namun akibat faktor umum dan tingginya frekuensi pemakaian pada pertengahan Februari 2004, jembatan mengalami keretakan di lantai mengakibatkan kendaraan bertonase berat tidak bisa lagi melewatinya karena dikhawatirkan memperparah kerusakan.

Karena pentingnya manfaat jembatan bagi masyarakat Muaraenim khususnya, PT MHP bersama PT Pertamina DOH Sumbagsel berinisiatif membentuk konsorsium guna merehabilitasi jembatan Teluk Lubuk di bawah bimbingan Dinas PU Bina Marga Sumsel. Setelah itu, pihaknya menunjuk PT Yodya Karya (persero) untuk meneliti sisa kekuatan jembatan esisting melibatkan balai jembatan dan bangunan pelengkap jalan, Puslitbang Transportasi, Departemen Kimpraswil Bandung dan PU Bina Marga Sumsel.

Hasil penelitian yang digelar Mei-Juni 2004 menunjukkan ada kerusakan pada lantai jembatan. Rusak parah, banyak baut yang longgar, chamber ketiga rangka baja banyak berkurang dan rangka baja jembatan lainnya hanya mampu memikul 70 persen beban. Lalu diadakan perbaikan peningkatan kapasitas muatan kontruksi rangka baja Australia di setiap bentang sistem eksternal prestressing, pengantian kelurahan lantai jembatan dengan balok beton pracetak prategang berpenampang “Double T”, penggantian dudukan jembatan dengan elastorribearing pad, penggantian dan pengencangan baut rangka baja, perbaikan beton kepala jembatan dan kepala pilar serta pemasangan ruberr strip, jelas Dirut.

Ditambahkannya, perbaikan jembatan Teluk Lubuk dimulai Agustus 2004 hingga Januari 2005 oleh PT Nidya Karya (persero) menelan dana Rp 4.930.219.000 terdiri dari PT MHP Rp 3.930.219.000 dan PT Pertamina (persero) Rp 1 Miliar. PT MHP juga menutupi biaya jasa konsultan Rp 415 juta dan biaya pembuatan jembatan darurat (ponton) Rp 3,150 miliar. Gubernur Sumsel, Ir Syahrial Oesman dan Bupati Muaraenim, H Kalamudin Djinab, SH menghimbau seluruh masyarakat menjaga dan memelihara jembatan agar benar-benar bermanfaat.

14 April 2008

Ikan Sepat Laut Hidup di Sungai

Ketika bulan purnama tiba, guratan guratan dibulan seperti membentuk gambar, menurut orang orang tua dulu gambar tersebut adalah seorang nenek yang sedang memancing ikan sepat, kalau sampai ikan sepat tersebut memakan umpan dan kena pancing maka akan terjadi kiamat. Tentu saja cerita tersebut cuma dongeng, namun fakta bahwa ikan sepat memang jarang kena pancing adalah benar.

Bagi masyarakat Rambang Dangku ikan sepat ada dua jenis, ikan sepat bermata merah yang biasanya disebut sepat mate abang atau disebut juga sepat pinggir, sedangkan sepat yang lebih besar disebut sepat siam, saya tidak tahu apakah benar benar dari negeri siam(Thailand) atau hanya sekedar nama seperti nangke belande(sirsak), jambu Bangkok ataupun petai cine.

Suatu hari saya mendengar percakapan teman saya dengan pegawai pertamina (atau kontraktornya, tidak ada bedanya) dengan bahasa Indonesia seadanya saat mereka sedang mancing di pinggir sungai lematang, yang menarik perhatian saya adalah ketika dia mem-bahasa Indonesia-kan nama sepat siam menjadi sepat laut, bagi orang yang mengerti bahasa daerah sekitar mungkin bisa menangkap maksudnya, tapi bagi orang jawa mungkin timbul pertanyaan “sepat laut kok hidupnya di sungai”.

Masyarakat setempat mengartikan laut sebagai bagian tengah dari sungai dan sebagai antonimnya adalah pinggir yaitu bagian tepi sungai yang berbatasan dengan daratan, sehingga ketika teman saya tersebut bercerita tentang sepat dan dia bisa mem-bahasa Indonesia-kan sepat mate abang menjadi sepat mata merah atau sepat pinggir namun dia bingung mengartikan sepat siam sehingga memakai lawan kata pinggir menjadi laut sehingga sepat siam menjadi sepat laut.